Penempuh Thariqat

Makna Thariqat

Sebelum mempelajari dan mendalami terlebih jauh tentang thariqat sebaiknya mengetahui pengertiannya : Apa yang dimaksud dengan thariqat ?…

Thariqat yang berasal dari kata bahasa yaitu, “Thariqa” adalah jalan atau waktu jarak antara sebelum dan sesudah terjadinya penciptaan semesta alam beserta seisinya, ruang masa yang didalamnya termasuk perputaran bumi pada porosnya adalah atas kekuasaan-Nya (Allah SWT), bahwa tiada gerak dan diam buah ciptaan-Nya (Allah SWT) kecuali sebab Irodah Kemaha Kuasaan-Nya dan dari setiap bentuk, gerak kejadian yang terjadi dan yang di jadikannya itu merupakan pelajaran bagi makhluk untuk hikmat mengenal kepada Keesaan dan Kesucian Allah SWT.

Dari sudut pandang itu tersimpulkan bahwa, hakikat thariqat adalah bergeraknya waktu sejalan dengan kehidupan dari yang diciptakan berdasarkan Kemaha Kuasaan atas Dzat-Nya (Allah SWT) mengikuti sifat-sifat Kemaha Sucian-Nya. Yang dalam hal ini adalah apa yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW ( Al Qur’an) dan yang di sunahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW bagi umat manusia di muka bumi yakni : “Mentauhidkan Allah SWT”.

Dalam kata lain thariqat secara harfiyah atau secara ishtilahadalah :

  • Thariqat secara harfiyah bahasa adalah jalan / cara / metode implementasi syariat.

Secara bahasa setiap umat islam yang melaksanakan syariat berarti mereka melaksanakan thariqat.

Contoh : Rasulullah ketika shalat memulainya dengan niat dan diakhiri dengan salam, dan umat islam yang melaksanakan shalat seperti shalatnya Rasulullah Muhammad SAW tersebut berarti mereka telah melaksanakan Thariqat.

  • Adapun Thariqat secara ishtilah adalah cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqat adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariat adalah hukum dan Thariqatadalah prakteknya [pelaksanaan dari hukum itu sendiri].

 

Thariqat ada 2 (dua) macam :

  1. Thariqat ‘Aam [Umum] : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu    melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran – anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru mursyid.
  2. Thariqat Khas [Khusus] : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru, Syeikh Mursyid. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah ruhani dari sang guru, Syeikh Mursyid dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Muhammad Saw. Thariqat Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqat as Sufiyah atau Thariqat Al Auliya’.

 

Thariqat Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah Saw itu berjumlah 360 Thariqat. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqat. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqat, dikenal dengan Thariqat Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqat Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.

Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا.           (ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1/30)

Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqat [metoda pendekatan pada Allah], siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. [Mizan Al Qubra: 1 / 30 ].

Dalam riwayat hadits yang lain dinyatakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة (رواه الطبرني)

Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqat [metode pendekatan pada Allah], tiap hamba yang menemui [mendekatkan diri pada] Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. [HR. Thabrani].

 

Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqat pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqat sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin [terpercaya dan tidak pernah bohong].Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?

Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam.Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqat mujahadah adalah thariqat / metode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah [maqamat] untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqat yang ada adalah thariqat mujahadah.

Sedangkan thariqat mahabbah adalah thariqat yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala akhirat, kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqat mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.

 

SULUK

1. Mencari Tau

Sebelum para murid atau salik [hamba yang mengadakan pengembaraan batin]mempelajari dan mengamalkan thariqat dengan total, diharuskan untuk  mencari tahu terlebih dahulu silsilah dan nasab gurunya atau dalam bahasa thariqat “bersuluk” sampai yakin yang akan dijadikan guru tersebut jelas nasab dan silsilahnya atau dalam bahasa thariqat gurunya adalah seorang mursyid, karena apa yang akan dipelajari dan temuan-temuan ketika salik mengamalkan pelajaran dari mursyidnya terus dalam bimbingan dan pengawasannya sehingga tidak akan tersesat dan menyesatkan.

Setelah seorang murid atau salik tahu dan meyakini tentang guru dan kebenaran ajarannya maka salik memohon kepada gurunya untuk membai’at dirinya yang sebelumnya sudah meminta ijin dari orang tuanya untuk menempuh ajaran dengan terminologi thariqat kepada mursyid yang sudah diyakini nasab dan silsilah serta teruji tentang kebenaran ajarannya.Setelah murid di bai’at berarti siap untuk meninggalkan ajaran atau keyakinan yang telah didapatinya, karena dalam thariqat tidak boleh ada dua keyakinan tentang ajaran atau guru mursyid yang dijadikan sebagai guru selama proses pengamalan, karena dikhawatirkan akan menimbulkan keraguan dan membanding-bandingkan ajaran sehingga dalam proses pengamalan tersebut terjadi kebimbangan yang selalu membayang-bayangi pikiran dan hatinya.

Untuk itu seorang salik ketika memohon ijin untuk dibai’at oleh gurunya berarti seorang salik sepenuhnya memasrahkan penempuhannya kepada gurunya dan setelah membai’at saliknya, gurunya akan selalu membimbing dan mengawasi tahapan-tahapan yang ditempuh dan bahkan bertanggung jawab serta dapat mengatasi ketika salik merasakan sesuatu atau mendapatkan pengalaman-pengalaman yang diluar nalar akal manusia pada umumnya selama peroses penempuhan tersebut.

 

2. Siapakah Guru Mursyid ?…

Guru Mursyid adalah orang yang senantiasa berkompeten dalam ketaatannya, tanpa dicelahi oleh kemaksiatan atau orang yang dilindungi oleh Allah SWT.dengan menjaga dan membentenginya untuk selalu langgeng dan terus menerus dalam ketaatan, bagi mereka tidak dihiasi akhlak kehinaan yang merupakan takdir kemaksiatan, tetapi Allah melanggengkan Taufiq-Nya yang merupakan takdir ketaatan kepada-Nya.

Secara ilmiah guru mursyid adalah orang yang diberikan keutamaan dengan kesucian ruh, kejernihan hati dan akal pikirannya serta di ilhami ilmu pengetahuan “karomah” dan mereka lebih dekat dengan Allah SWT. maka dengan keutamaan ini dengan mujahadah dan istiqomahnya guru mursyid telah melampaui batasan-batasan dan tahapan-tahapan dalam terminologi thariqat baik secara syari’at maupun hakikat bahkan sampai kepada tingkat yang tertinggi yaitu ma’rifat.

 

3. Apakah Bai’at Itu  ?…

Bai’at secara harfiyah bahasa adalah ikrar,sedangkan secara ishtilah bai’at adalah kembalinya seseorang dengan hati yang seseadar-sadarmya, mengakui atas semua kesalahan atau dosa yang telah dilakukannya dan berikrar menghadap kepada Allah untuk melakukan taubatan nasuha.

Dari keterangan tersebut diatas bahwa konotasi bai’at adalah taubat, karena tobat merupakan tingkat pertama diantara tingkat-tingkat yang dialami oleh para penempuh thariqat [para sufi] dan termasuk juga tahapan pertama antara tahapan-tahapan yang dicapai oleh penempuh jalan Allah [Salik].

Para ahli Ushul di kalangan Ahli Sunnah mengatakan, “Terdapat tiga syarat tobat yang harus dipenuhi agar tobat itu sah : Yang pertama, Menyesali pelanggaran yang telah dilakukan; yang kedua, Meninggalkan secara langsung penyelewengan; dan yang ketiga, Dengan mantap seseorang memutuskan tidak kembali pada kemaksiatan yang sama.

Bila seorang salik hendak menempuh jalan ruhani [suluk], pertama-tama yang harus dilakukan adalah tobat kepada Allah SWT. dari segala kesalahan. Meninggalkan seluruh dosanya baik dosa lahir maupun dosa batin, dosa kecil maupun dosa besar.Ia pun harus rela dengan caci-maki orang lain. Sebab barang siapa tidak rela dengan caci-maki, tidak akan terbuka hatinya untuk menjalani tharikat ini. Setelah itu seorang salik harus melakukan pembuangan segala ikatan dan kesibukan.Karena bangunan thariqat ini berbeda di atas kekosongan hati [selain Allah SWT].

 

4. Kenapa Seorang Murid atau Salik Harus di bai’at terlebih dahulu olehGuru Mursyidnya ?…

Karena, sebelum seoarang salik menjalankan ajaran yang diperintahkan oleh guru mursyidnya dengan tahapan-tahapannya, maka yang pertama kali adalah ketetapan ikrar tobatnya seorang salik dengan penuh penyesalan atas dosa dan kealpaan yang telah dilakukannya. Dan dalam pertobatannya apa yang ditempuh oleh seorang salik akan terus dibimbing dan di awasi oleh guru mursyidnya sehingga tetap dalam arahan dan tidak tersesat.

Oleh sebab itu seorang guru mursyid tidak akan memberikan perintah kepada saliknya dengan suatu dzikir yang khusus [tahapan selanjutnya] apabila saliknya belum menyingkirkan segala ketergantungan duniawi, tapiguru mursyidnya cukup dengan hanya melatihnya. Namun apabila guru mursyidnya telah menyaksikan salik melalui hatinya, bahwa salik telah benar hasrat utamanya, maka guru mursyid membuat syarat agar salik ridha terhadap apa yang dihadapi dalam thariqat berupa bagian-bagian praktis dari aturannya. Maka demikian guru mursyid mengambil janji kepada salik untuk tidak berpaling dari thariqat, manakala salik menghadapai berbagai masalah seperti kesengsaraan, kehinaan, kefakiran, kepedihan dan penyakit.Dan ketika itulah guru mursyid selalu membimbing dan mengawasi saliknya agar tetap sabar dan istiqomah dalam penempuhannya sampai wushul kepada Allah SWT.

 

5. Nasihat Guru Mursyid Kepada Saliknya

Langkah pertama yang harus dijejakkan oleh penempuh [salik] thariqat, adalah ia harus melangkah di atas jalan kejujuran hati yang benar, agar benar pula membangun yang berdasarkan prinsip yang shahih. Sebab para syaikh berkata, “Mereka terhalang untuk sampai kepada Allah SWT. [wushul] disebabkan mereka menelantarkan prinsip-prinsip akidah [al-ushul].

Begitupun syaikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Awal mula bagi penempuh adalah meluruskan akidah antara dirinya dengan Allah SWT.Bersih dari segala dugaan dan keserupaan, jauh dari kesesatan dan bid’ah, muncul dari bukti-bukti dan hujjah.Bagi seorang salik, menjadi cela bila mengaitkan diri pada suatu mazhab yang bukan mazhab dari thariqat. Tidak ada pengaitan seorang sufikepada suatu mazhab yang berbeda dengan thariqat kaum sufi, kecuali menyimpulkan akan kebodohannya, tentang mazhab thariqat. Sebab hujjah dalam persoalan mereka lebih jelas dibanding hujjah siapapun, dan kaidah mereka lebih kuat dibanding kaidah mazhab manapun.”

Manusia adakalanya terpukau pada ayat dan hadits, adakalanya cenderung pada penggunaan akal dan pikiran. Sementara para syaikh golongan sufi melampaui semuanya. Bagi manusia pada umumnya, sesuatu tampak gaib, namun bagi kalangan sufi tampak jelas. Bagi khalayak, pengetahuan merupakan tumpuan, namun bagi kalangan sufi pengetahuan maujud dari Allah SWT. Yang Maha Haq.Mereka adalah kalangan yang senantiasa bertemu dengan Allah SWT. [ahlul wishal] sementara manusia pada umumnya berpihak pada pencarian bukti [ahlul istidlal].

Para sufi itu sebagaimana diungkapkan penyair :

Malamku, bersama Wajah-Mu, cemerlang

Sedang kegelapan meliputi manusia

Manusia dalam kegelapan yang gulita

Sedang kami dalam cahaya siang benderang.

 

Apabila telah mengikat dirinya dengan Allah SWT. Seorang salik harus memperoleh ilmu syari’at, bisa dengan jalan penelitian [tahqiq] atau melalui cara bertanya kepada imam-imamnya, mana kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan. Bila diantara mereka berselisih pandang soal syari’at, salik harus mengambil pandangan yang lebih hati-hati dan lebih teliti. Disamping itu, ia harus berusaha keluar dari lingkaran khilafiyah [al-khuruj minal khilaf]. Sebab kemurahan [rukhshah] dalam syari’at hanya diperuntukan bagi mereka yang lemah dan mereka mendapatkan kesibukan dan hajat yang amat mendesak. Sedangkan kesibukan para murid, tidak lain hanyalah bersibuk diri bersama Allah SWT. Karena itu dikatakan, “Apabila si fakir turun dari derajat hakikat pada rukhshah syari’at berarti ikatannya dengan Allah SWT.telah rusak. Janji antara dirinya dengan Allah SWT.juga rusak. Kemudian bagi salik, harus belajar adab dengan seorang syaikh.Apabila dalam menempuh jalan sufi ini salik tidak mendapatkan seorang syaikh ruhani, ia tidak akan bahagia selamanya.”Karena itu Abu Yazid al-Bisthamy berkata, “Siapapun yang tidak memiliki guru, maka setanlah imamnya”.

Sementara syaikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Pohon, apabila tumbuh dengan sendirinya, hanya tumbuh dengan daunnya, tetapi tidak berbuah.Begitu pula salik, apabila tidak berguru dengan guru mursyid [syaikh], lalu menyerap begitu saja ajaran tasawuf melalui metodenya sendiri, maka salik itu adalah penghamba hawa nafsu, yang tidak akan lestari”.

Seorang salik tidak boleh berbeda pandangan dengan guru mursyidnya, dalam berbagai isyarat yang ditujukan kepadanya.Berbeda pandangan dengan guru mursyidnya, bagi seorang salik merupakan bahaya besar.Karena awal perjalanan ruhaninya merupakan bukti bagi seluruh usianya.

Disisi lain seorang salik tidak boleh ada ganjalan kontradiksi terhadap guru mursyidnya. Bila dalam benaknya mempunyai persepsi bahwa dirinya, di dunia dan di akhirat mempunyai kemampuan dan nilai, atau merasa paling hebat di muka bumi, maka cit-citanya tidak shahih. Karena, seharusnya ia berjuang agar mengenal Tuhannya, bukan berjuang untuk mendapatkan status dirinya.Disinilah, adanya perbedaan antara orang yang mengharapkan Allah SWT.dan orang yang mengharapkan status kepangkatan, baik harapan itu untuk dunianya maupun akhiratnya.

 

6. Tanbih

Ingatlah, bahwa bisikan-bisikan yang mengganggu hati adalah keraguan dalam akidah dan hal seperti itu tidak akan sunyi dari perjalanan permulaan seorang salik dalam menempuh hasrat spiritualnya.

Ingatlah, bagi para salik secara khusus, akan mendapatkan ujian-ujian dalam menggapai pintu thariqat ini. Karenanya, bila mereka menyendiri dalam tempat-tempat dzikir atau majlis-majlis sima’, atau tempat lainnya, jiwanya sering diganggu, dan kepeduliannya sering dihembusi oleh kemungkaran-kemungkaran yang mengatakan bahwa Allah SWT.Suci dari semua itu, disamping si salik tidak dipersepsikan adanya nuansa syubhat yang bathil pada bisikan-bisikan itu.Tetapi gangguan itu tidak berjalan lama. Pada saat-saat seperti itu, kepedihan luar biasa menimpa salik, sampai pada batas, dimana makian yang paling kotor, ucapan yang paling keji, dan bisikan yang paling busuk, yang tidak dapat diungkapkan oleh si salik kepada siapapun. Inilah gangguan terberat yang menimpa dirinya.Tugas si salik bila terganggu seperti itu, adalah tidak mempedulikan bisikan-bisikan itu dengan tetap melestarikan dzikir, kembali kepada Allah SWT.mempertahankannya dengan sikap konsisten. Bisikan-bisikan itu bukanlah hembusan-hembusan setan, tetapi merupakan gangguan nafsu. Apabila hamba dapat menandinginya dengan cara meninggalkan orientasi pada gangguan tersebut, maka gangguan itu akan putus dengan sendirinya.

Ingatlah, bagi para salik bahwa, siapapun yang masih memiliki kesenangan sebagaimana manusia pada umumnya, maka harus memenuhi seleranya itu seperti kebanyakan manusia, dengan kerja keras dan memeras otak. Apabila salik mendisiplinkan diri dengan melestarikan dzikir, memprioritaskan khalwat, lantas dalam khalwatnya menemukan hal-hal yang tidak ditemukan oleh kalbunya; baik dalam keadaan tidur, jaga atau antara tidur dan jaga; berupa bisikan yang didengar atau makna hati yang disaksikan, hal-hal yang menentang adat kebiasaan, maka sebaiknya ia tidak terpaku atau disibukkan oleh hal-hal seperti itu selamanya. Tidak selayaknya, salik menunggu datangnya peristiwa-peristiwa ruhani seperti itu.Sebab peristiwa seperti itu, merupakan gangguan-gangguan yang menjauhkan salik dari Allah Yang Maha Benar dan Maha Luhur.

Apabila seorang salik mendapatkan peristiwa ruhani seperti diatas, ia harus melaporkan kepada syaikhnya, sampai hatinya benar-benar bersih dan kosong dari itu semua. Dan dalam kondisi tersebut seorang guru mursyid menjaga rahasia bathin si saliknya dengan tanpa sepengetahuan siapapun dan guru mursyidnya pun akan menegaskan kepada saliknya bahwa peristiwa seperti itu hanyalah masalah kecil.Sebab semua itu tidak lain hanyalah informasi-informasi ruhani. Sedangkan berorientasi pada informasi ruhani merupakan makar atau cobaan. Sebaiknya murid menghindari untuk meneliti secara detil peristiwa-peristiwa ruhaninya. Lebih baik ia konsentrasi pada cita-citanya yang lebih luhur lagi, dari sekedar menggapai informasi ruhani itu.

Ingatlah, bahwa di antara bahaya terbesar bagi seorang salik, manakala salik merasa senang atas apa yang datang dalam bathinnya, berupa kedekatan-kedekatan Allah SWT. kepadanya, dan anugerah-Nya yang dilimpahkan kepadanya, semisal merasa gembira, bahwa Allah SWT. mengilhamkan, “Aku mengkhususkan dirimu dalam hal ini, dan Aku menyingkirkan semua persoalanmu.” Maka bila saja ia mengucapkan, “Dengan meninggalkan ini,” pasti dalam waktu dekat hal-hal yang tampak dalam mukasyafah hakikat akan segera dihanguskan darinya. Penjelasan masalah ini termasuk hal-hal yang tidak diperkenankan dalam beberapa kitab.

Diantara aturan-aturan bagi seorang salik adalah apabila tidak menemukan guru mursyid yang dapat mendidik adab jiwanya ditempat tinggalnya, seharusnya ia hijrah kepad guru mursyid yang memiliki derajat di zamannya untuk memberi pelajaran petunjuk hati para salik, kemudian mukim di sisi guru mursyidnya, dan dilarang pergi dari tempatnya sampai pada waktu yang sudah diizinkan oleh guru mursyidnya.

Ingatlah menjadi kewajiban, bahwa mengenal Tuhannya Baitullah harus didahulukan dibanding ziarah ke Baitullah itu sendiri. Kalau saja dalam dirinya tidak mengenal Tuhan Baitullah, sama sekali tidak wajib menziarahi Baitullah. Orang-orang muda yang pergi menunaikan haji, yang dilakukan tanpa melalui petunjuk guru mursyidnya, merupakan indikasi bahwa orang-orang itu hanya mengikuti semangat nafsunya semata.Mereka menamakan dirinya sebagai pengikut thariqat padahal keberangkatannya tidak memiliki dasar.Indikasinya, mereka tidak memiliki bekal keberangkatan, kecuali bekal perpecahan jiwanya. Padahal, apabila mereka berangkat dari jatidirinya satu langkah saja, niscaya selangkah itu lebih baik dibanding seribu kali bepergian.

Dan yang terakhir diantara syarat bagi seorang salik adalah bila berziarah kepada guru mursyid [syaikh], salik harus masuk dengan penuh hormat, memandangnya dengan wajah yang ramah. Apabila sang syaikh menyilahkan dengan suatu sambutan, tentu, sambutan itu merupakan anugerah kenikmatan.